Sejarah Sumedang di Museum Prabu Geusan Ulun

Museum Prabu Geusan Ulun berada di Jalan Prabu Geusan Ulun No 40,

sebelah selatan Alun-alun Sumedang satu kompleks dengan Gedung Negara (rumah dinas bupati Sumedang). Museum ini terdiri dari beberapa gedung, yaitu Gedung Srimaganti, Bumi Kaler, Gedung Gendeng, Gedung Pusaka, Gedung Gamelan, dan Gedung Kereta.

Gedung Srimaganti digunakan untuk menyimpan koleksi gamelan pusaka degung pangasih peninggalan Pangeran Kornel, gamelan pusaka sari arum Peninggalan Pangeran Soegih, dan pepeten yaitu tempat alat rias istri para Bupati Sumedang.

Bumi Kaler yang berarti rumah yang menghadap ke utara (kaler, bahasa Sunda) dibangun pada tahun 1850, pada awalnya bumi kaler berpasangan dengan bumi kidul atau rumah yang menghadap ke selatan (kidul, bahasa Sunda), namun karena lapuk akhirnya dibongkar. Gedung lainnya Gedung Gendeng,  dipakai menyimpan koleksi peti wayang kulit peninggalan Pangeran Soegih, Wayang Golek peninggalan Pangeran Soegih, dan beberapa buah keris.

Gedung Pusaka digunakan untuk memamerkan berbagai keris, kujang, serta pedang peninggalan Kerajaan Sumedang Larang dan Pajajaran. Di Gedung Gamelan terdapat koleksi gamelan dengan nama Sari Oneng Parakansalak yang pernah dipamerkan di Amsterdam pada tahun 1863 dan pada tahun 1889 di Paris. Ada pula Sari Oneng Mataram peninggalan Pangeran Penembahan.
Gedung Kereta menyimpan kretek (kereta yang ditarik kuda, bahasa Sunda), andong, dan kereta kencana naga paksi yang zaman dahulu dipergunakan dalam upacara kebesaran dan dinaiki oleh bupati serta ditarik oleh masyarakat dari Pendopo sampai Alun-alun Sumedang. Wujud kereta kencana naga paksi merupakan penyatuan tiga hewan dalam dunia khayalan dan nyata  yaitu naga, gajah, dan burung.

Museum ini tutup pada hari Senin dan Jum`at, untuk sampai di museum ini, dari Kabupaten Bandung dapat menggunakan angkutan umum Cileunyi - Sumedang.