Adapatasi Kebiasaan Baru, Mayoritas Ibadah Gereja Masih Online 

Adapatasi Kebiasaan Baru, Mayoritas Ibadah Gereja Masih Online 
Dok Humas Pemkot Bandung

 

BANDUNG (golali.com) - Ketua Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), Bambang Widjaja mengungkapkan sebagian besar tempat ibadah umat nasrani masih memilih tutup dan ibadah dilakukan secara online, guna menghindari terjadinya claster baru. Khususnya, gereja yang memiliki jemaah cukup besar.


“Setiap Senin pertama dan Senin ketiga gereja-gereja di Bandung berkomunikasi, menata diri dan melangkah bersama. Saat ini yang mengikuti pertemuan secara online di Bandung ada 140 gereja. Sekitar 30 gereja yang sudah mulai melakukan ibadah tapi mayoritas belum. Kami ingin memastikan keamanannya,” kata Bambang dalam rilis Humas Pemkot Bandung yang diterima golali.com, Minggu (12/7/2020).

Contohnya Gereja Fajar Pengharapan di Jalan Pajagalan, terdata sekitar 3.000 orang yang rutin menjalankan ibadah. Sehingga penerapan standarisasi protokol kesehatan sangat diperhitungkan dan diberlakukan secara ketat.


“Karena keamanannya ada tiga, keamanan pada jemaah dan keamanan pelayan. Sedangkan keamanan yang ketiga yang menjadi tanggungjawab kita yaitu keamanan lingkungan. Jangan sampai nanti kita menjadi yang menyebarkan pada lingkungan,” ucap Bambang. 

Ketua Harian Gugus Tugas Covid-19 Kota Bandung, Ema Sumarna menjelaskan sejak penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) proporsional, rumah ibadah sudah mulai dibuka secara bertahap. Meski pun baru diperkenankan menampung jemaah sebanyak 30 persen dari kapasitas.
Sedangkan saat masa Adaptasi Kebiasan Baru (AKB), rumah ibadah diizinkan untuk menerima jemaat sekitar 50 persen dari kapasitas gedung.

Ema berpesan pada masa AKB ini tak lantas menjadi alasan untuk melonggarkan kewaspadaan. Dia menyerukan agar penerapan standarisasi protokol kesehatan tetap ketat. Sehingga tempat ibadah tidak menjadi claster penyebaran Covid-19. 

“Ada rasa nyaman dan ketenangan buat jemaah bahwa tempat ibadah ini layak,” tutur Ema.