Akulturasi Budaya Masjid Gede Mataram 

Akulturasi Budaya Masjid Gede Mataram 
Masjid Agung Mataram Kota Gede

Akulturasi Budaya Masjid Gede Mataram 

BANTUL (golali.com) - Masjid Gede Mataram Kotagede yang terletak di Jalan Masjid ini menjadi salah satu peninggalan sejarah dari kerajaan yang menjadi cikal bakal Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Jalan Masjid Mataram Kecamatan Banguntapan Kabupaten Bantul, yang berbatasan dengan Kecamatan Kota gede Kota Yogyakarta ini memiliki beragam keunikan yang tak boleh dilewatkan ketika melakukan wisata religi ke Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Ya, di masjid ini saya menemukan desain arsitektur yang unik di mana pada tiga pintu gerbang berbentuk gapura paduraksa, yang biasanya diterapkan pada bangunan candi dan keraton. Ciri khas gapura paduraksa ini memiliki atap bersusun. 

Berbeda dengan tampilan gapura yang berdesain pra-Islam, arsitektur masjid lebih menitikberatkan pada gaya desain Jawa yang mengadopsi estetika pasca-Islam masuk ke Jawa. Ditandai pada bagian awal masjid, terdapat kuncungan yang memisahkan serambi dengan halaman masjid. Kuncungan bercat hijau ini, beratap kampung khas Jawa yang berhiaskan kaligrafi.

Sementara serambi berbentuk pendapa dan beratap limasan yang dikelilingi kolam kecil, di sini terdapat kentongan dan bedug yang bernama Kyai Dondong. Kabarnya bedug Kyai Dondong ini telah berumur ratusan tahun dan sampai sekarang masih dipukul sebelum azan berkumandang. 

Ketika akan memasuki masjid, saya menemukan kaligrafi pada bagian atas pintu. Bangunan utama atau liwan beratap tajug lambang gantung dengan mustaka pada bagian puncaknya, mihrab berukir, serta mimbar yang konon berusia sama dengan masjid ini. Di samping kiri  liwan, terdapat pawastren beratap limasan yang berfungsi sebagai ruangan khusus jamaah perempuan. 


Mengutip data yang tertera pada papan informasi di dekat salah satu gapura paduraksa, dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Daerah Istimewa Yogyakarta bersumber dari Babad Momana, pembangunan masjid ini atas perintah salah satu raja Kerajaan Mataram Islam, Panembahan Senopati  yang pembangunannya selesai pada 1589.  


Masjid ini melewati beberapa kali renovasi dan penambahan beberapa bangunan, tetapi tidak mengubah wujud awalnya. Pemugaran awal pada 1796 sampai dengan terakhir pada 2007, karena berbagai penyebab di antaranya penambahan bangunan untuk aktivitas beribadah, kebakaran pada 1919, dan gempa bumi tektonik yang melanda sebagian besar wilayah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada 27 Mei 2006.   

Untuk sampai di lokasi masjid ini dari kawasan Malioboro, saya menaiki bus TransJogja turun di halte Ngabean, selanjutnya berpindah rute menuju kawasan Kota gede turun di Halte Tegal gendu dan berjalan kaki di sepanjang kawasan kerajinan perak Kota gede. Masjid ini tidak berada di tepi jalan besar melainkan harus masuk ke permukiman penduduk, jangan bingung karena ada penunjuk jalan menuju masjid tersebut atau bisa bertanya pada warga sekitar.