Anggi Novalga, Penata Musik Kisah Horor The Sacred Riana

Anggi Novalga, Penata Musik Kisah Horor The Sacred Riana
Dok Pribadi Anggi Novalga

JAKARTA (golali.com) -  Musik menjadi salah satu kekuatan dalam menyampaikan pesan dan emosi suatu cerita, saat disiarkan dalam kemasan podcast seperti yang disuguhkan spotify.  Satu di antaranya Kisah Horor The Sacred Riana, karya kolaborasi Wahana Kreator Nusantara dengan Fremantle Indonesia, yang terdiri dari 10 episode dan disiarkan setiap Kamis mulai 6 Agustus 2020. 


Penata Musik Kisah Horor The Sacred Riana, Anggi Novalga menceritakan dalam penggarapan musik untuk kisah horor ini, dirinya berkolaborasi dengan Salman Aristo sebagai Music Director yang mengarahkan perpaduan musik dengan cerita yang disajikan.  

"Dalam proses ini saya minta bantuan Salman Aristo, jadi secara pengerjaan berdua. Dia yang mengarahkan kapan musik berhenti, kapan kebanyakan instrumennya, kapan harus ramai, kapan harus sepi. Tetapi untuk composing saya sendiri," tutur Anggi kepada golali.com secara daring, Kamis (6/8/2020).

Pria kelahiran Jakarta ini menerangkan dalam menghasilkan musik untuk kisah misteri ini, selain berdasarkan skenario  juga mencari referensi dengan mendengarkan musik dan menonton film horor yang pernah ada. Meskipun begitu, dirinya berusaha menciptakan musik horor yang berbeda dengan umumnya. 

"Ada beberapa eksperimen yang saya lakukan, untuk menghasilkan musik horor dengan ciri khas khusus," sambung Anggi. 

Lulusan Pascasarjana Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung ini, mengaku baru pertama kali menggarap musik untuk kisah bergenre horor dalam kemasan podcast. Banyak pengalaman baru yang Anggi dapatkan terutama untuk media podcast, yang hanya mengandalkan audio. 

"Tantangan terbesarnya bukan genre horor tetapi kemasannya podcast. Kalau genre horor tapi kemasannya film, agak lebih ringan mengerjakannya karena untuk sampai pesannya kepada khalayak terbantukan visual. Sementara dipodcast ini tantangannya tidak ada visual hanya dari bantuan sound design dan musik yang harus kuat," beber Anggi.