Arti Kebersamaan Dalam Film Keluarga Cemara

Arti Kebersamaan Dalam Film Keluarga Cemara
instagram/filmkeluargacemara

 

Suatu keluarga tak hanya berfokus pada Ayah sebagai kepala keluarga, tetapi perlu keterlibatan semua bagian keluarga yaitu ibu dan buah hatinya untuk menyelesaikan semua masalah, itulah yang tersaji dalam Film Keluarga Cemara. Film yang diadaptasi dari novel "Keluarga Cemara" karya wartawan senior Arswendo Atmowiloto. Di era 90an sampai 2000 awal, novel ini pernah dijadikan serial yang tayang pertama kali di RCTI.  Film ini mengisahkan keluarga kecil  yang tinggal di kota metropolitan Jakarta, yang terdiri dari 
Abah (Ringgo Agus Rahman), Emak (Nirina Zubir), Euis (Adhisty Zara/Zara JKT48), dan Cemara (Widuri Sasono). 

Uniknya meskipun mereka tinggal di ibu kota sebagai keluarga modern, namun untuk panggilan anak kepada kedua orangtuanya mengambil bahasa Sunda, abah untuk panggilan ayah dan emak untuk panggilan ibu. Abah berprofesi sebagai pengusaha dibidang property sementara Emak mengurus kedua putrinya, mereka hidup sebagai keluarga harmonis yang tinggal di ibu kota, meskipun Abah seperti kebanyakan pengusaha pada umumnya yang memiliki waktu sangat singkat berkumpul dengan keluarganya, sampai-sampai banyak momen berharga dari kedua putrinya yang terlewatkan, namun Abah selalu menyempatkan waktu di pagi hari untuk sarapan bareng dan mengantar kedua putrinya ke sekolah. 

Hingga di saat momen ulang tahun Euis, Abah yang sudah janji mau datang tetapi tidak datang, malah kado terburuk dalam ulang tahun Euis yang harus diterima seluruh keluarga akibat Abah terlalu baik kepada kakak Emak yang membuat keluarga ini kehilangan rumah dan perusahaan, hingga akhirnya mereka pindah ke kampung halaman Abah di Kabupaten Bogor dan tinggal di rumah peninggalan orangtua Abah. 

Di sini konflik mulai muncul, bagaimana Abah sebagai seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab tidak menyalahkan apa yang terjadi, begitupun Emak berusaha meredam semuanya. Meskipun kedua anak Abah, berpikir yang berbeda.  Cemara alias Ara sebagai anak berusia enam tahun menerima kepindahan ini menjadi sesuatu yang membahagiakan karena bisa bermain sesukanya dan selalu berkumpul bersama Emak, Abah, dan Euis. Lain halnya dengan Euis yang beranjak remaja, sudah terbiasa dengan kenyamanan di rumah sebelumnya juga dengan pergaulannya di ibu kota. 

Berbeda dengan cerita serial Keluarga Cemara yang mengisahkan penggantian pekerjaan Abah sebagai tukang becak maka sesuai dengan kondisi saat ini Abah bekerja menjadi pengemudi ojek online, setelah sebelumnya sempat bekerja di proyek bangunan meskipun akhirnya malah jatuh dan menyebabkan kaki Abah patah. Namun becak sebagai ikon dari keluarga cemara sempat hadir dalam beberapa adegan. Dalam kisah ini pun, Emak kembali mengandung anak ketiga, yang membuat perasaan keluarga ini berkecamuk antara bahagia dan sedih. 

Euis menjual opak pun hadir meskipun bentuk opak buatan emak berbeda. Meskipun sudah melewati beberapa bulan dalam kondisi baru dan bertemu dengan teman satu sekolah yang baik, tetapi Euis masih belum bisa betah dan meminta Abah untuk menjual rumah warisan tersebut. Apakah Keluarga Cemara ini akan kembali ke kota besar dan Abah dapat kembali membangun bisnisnya. 

Film yang disutradarai  Yandi Laurens ini pertama kali hadir di bioskop pada 3 Januari 2019 lalu, bertepatan dengan libur sekolah dan Tahun Baru. Kini film ini telah ditayangkan ulang di stasiun televisi swasta pada momen tertentu seperti libur hari Raya Idul Fitri, libur sekolah, natal, dan tahun baru. 

Film ini telah mendapatkan penghargaan dalam berbagai ajang di antaranya Asian Academy Creative Award untuk Best Feature Film Indonesia 2019 dan Festival Film Indonesia 2019 untuk kategori pencipta lagu terbaik kepada Harry Tjahyono dan Arswendo Atmowiloto serta kategori penulis skenario adaptasi terbaik kepada Gina S Noer dan Yandi Laurens.