Ghosting Dalam Hubungan Percintaan, Apa Efeknya ?

Ghosting Dalam Hubungan Percintaan, Apa Efeknya ?
Ghosting Dalam Percintaan (Ilustrasi Golali.com)

 

 

Ghosting atau bahasa awamnya meninggalkan tanpa pesan dan jejak, sebenarnya bukan hal baru. Namun memasuki era komunikasi digital, yang seharusnya memudahkan siapapun untuk saling terhubung. Malah memudahkan seseorang melakukan ghosting kepada pihak lain, termasuk dalam hubungan percintaan.  

Dikutip dari berbagai sumber, perilaku ghosting ini terjadi karena ketidakmampuan seseorang untuk mengkomunikasikan alasan dirinya atau suatu pihak untuk memutuskan sesuatu yang terkait dengan pihak lain.

Ghosting dalam hubungan percintaan 

Untuk ghosting dalam hubungan percintaan, hal ini lebih berkaitan dengan efek psikologi yang diterima pihak yang dighosting. Ghosting bisa terjadi dalam berbagai tahap, antara lain :

1. Hubungan pendekatan atau yang lebih familiar disebut PDKT

 

Dalam tahap pendekatan atau PDKT, pelaku ghosting dapat dilakukan perempuan maupun laki-laki. Hanya saja, kebanyakan ghosting dilakukan kaum pria yang tiba-tiba menghilang tanpa ada kabar.

 

Ghosting yang dilakukan mulai dari tidak membalas pesan secara online bahkan adapula yang memblokir nomor. Selain itu, saat dicari pun terkadang menghilang dari tempat biasanya nongkrong sampai rumahnya. 

 

Hal yang membuat pihak yang dighosting merasa kecewa, karena biasanya sebelum ghosting tidak didahului dengan adanya pertengkaran di antara keduanya. Ghosting dalam masa PDKT, terkadang dapat diterima pihak yang dighosting, karena merasa belum mengenal perilaku pengghosting dan tidak ada komitmen apapun.  

  

2. Hubungan Pacaran

 

Perilaku menghilang seperti hantu dalam hubungan pacaran, hampir mirip dengan saat PDKT. Bedanya perasaan yang dighosting akan lebih merasa sakit, karena dalam beberapa hal telah mengetahui perilaku dari pasangan yang melakukan ghosting. 

 

Sebenarnya, jika jeli seseorang tidak akan terkena ghosting dalam tahapan ini, pasalnya sebelum dia melakukan ghosting dalam beberapa kesempatan seringkali dia melakukan ghosting tipis-tipis. 

 

Misalnya saat terjadi pertengkaran dalam hubungan bukan menyelesaikan masalah. Dia  akan mudah sekali mengabaikan pesan dari pasangannya sampai memblokir nomor ponsel. Hanya saja, dia kembali berdamai dengan pasangannya.    

 

3. Hubungan Pertunangan 

 

Ghosting dalam masa pertunangan mirip-mirip ghosting dalam hubungan pacaran. Hanya saja, pihak yang dighosting tidak hanya rugi secara psikologi tetapi juga secara sosial.

 

Perilaku ghosting ini, berdampak secara sosial karena tidak hanya melibatkan hubungan dua insan yang berlawanan jenis. Melainkan juga hubungan dua keluarga dalam masyarakat. 

 

Dengan perilaku ghosting, otomatis akan membatalkan suatu hubungan yang bukan main-main lagi. 

 

4. Hubungan Pernikahan

 

Dalam hubungan suami istri pun, ghosting dari pasangan kerap kali terjadi. Biasanya salah satu pasangan pergi dari rumah dan menghilang tanpa ada perselisihan. 

 

Hal ini dapat berefek domino, pasalnya tidak hanya terkait antara suami dan istri, tetapi juga pada masa depan rumah tangga dan dua keluarga besar yang menyebabkan hilangnya kepercayaan.

 

Apalagi jika pernikahan tersebut telah menghasilkan keturunan, yang akan berefek pada tumbuh kembang dan masa depan anak. 

Baca juga : 

 

 

Jika merujuk pada ilmu komunikasi, perilaku ghosting dalam hubungan percintaan termasuk dalam komunikasi interpersonal yang sangat dipengaruhi konsep diri. 

Mengutip buku Psikologi Komunikasi (2004)  yang ditulis Jalaluddin Rakhmat, sukses komunikasi interpersonal banyak bergantung pada kualitas konsep diri positif atau negatif. 

Tanda konsep diri negatif :

1.Peka terhadap kritik (enggan untuk dikritik)

2. Responsif sekali terhadap pujian 

3.Merasa tidak disenangi orang lain 

4.Pesimis

 

 

Tanda konsep diri positif

1.Yakin akan kemampuannya mengatasi masalah 

2.Merasa setara dengan orang lain 

3.Menerima pujian tanpa rasa malu

4. Menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang seluruhnya tidak disetujui masyarakat 

5. Mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya. (Yatni Setianingsih/Golali.com)