Hani Amalia Hendrajatin, Menari dari Kondangan Sampai Keliling Dunia

Hani Amalia Hendrajatin, Menari dari Kondangan Sampai Keliling Dunia
Hani Amalia Hendrajatin saat berada di Masjid Agung Ummayah, Damaskus - Suriah (Dok Pribadi)

 

BOGOR (Golali.com) - Ketekunan menjadi langkah seseorang dalam mencapai tujuan, inilah yang menjadi modal dasar bagi Hani Amalia Hendrajatin, seorang seniman profesional kelahiran Bogor 30 Maret 1989. Menjalani sesuatu dengan tekun dalam belajar, apa yang sebelumnya tidak bisa menjadi bisa.  

 

"Saya tidak pernah bercita-cita masuk dunia seni, pas masuk kelas 3 SMA mendekati kelulusan, memutuskan untuk masuk kuliah. Tetapi sempat bingung, karena inginnya pas SMA bisa melanjutkan kuliah bidang Hukum atau Sosial Politik di UI (Universitas Indonesia), tetapi ada perasaan bisa enggak ya," ungkap Hani bercerita kepada Golali.com.

Klik juga : 

 

Orangtua, kata Hani menyarankan untuk masuk kuliah di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), kebetulan orangtua berprofesi sebagai guru. Tetapi untuk jurusan, Hani masih merasa bingung mau jurusan apa ? Hingga akhirnya memutuskan masuk Pendidikan Seni Tari (S-1).

 

"Saya nari enggak hebat-hebat amat juga, tari Nusantara belum ada yang dikuasai juga. Tetapi saya enggak mau kuliah yang mata kuliahnya nyusahin diri sendiri maupun bebanin biaya banyak dari orangtua," terang Hani.

 

Hani pun mengikuti serangkaian seleksi di UNJ, mulai dari tes menyanyi dan menari, lalu dilanjutkan dengan tes pengetahuan umum. Hingga akhirnya diterima dan mendapat gelar mahasiswi UNJ.

 

"Saya sebenarnya enggak paham tentang tarian, mulai dari olah tubuh, tetapi saya jalanin aja dengan ketekunan. Belajar tekniknya satu persatu," kata Hani.

 

Dengan berbekal ketekunan Hani bisa belajar dengan cepat berbagai tarian Nusantara, bahkan teman-teman di kampusnya tidak percaya jika Hani tidak pernah masuk sanggar, selain kursus kilat saat SMA.

 

"Banyak yang bilang mau jadi apa kuliah jurusan seni, tetapi untungnya orangtua mendukung pilihan saya. Saya berpikirnya sambil kuliah bisa sambil ngajar juga (buka sanggar) biar bisa bantu buat bayar kuliah," beber Hani.

 

Selain itu, sambung Hani kuliah di bidang seni, dia dapat menemukan passion. Sehingga semuanya dijalani dengan ringan, apalagi mulai mendapatkan kesempatan pentas tari bersama seniornya di kampus.

 

"Modal utama dalam bidang seni bukan skill kita (ini bisa dikejar), sikap kita jangan nyebelin, jangan bikin masalah, jangan malu bertanya, dan mau belajar. Orang jadi lebih enak mau ngajak kita, tapi ketika orang itu belagu bikin masalah. Karirnya lebih susah," urai Hani. 

Selain pentas di kampus, Hani pun sempat mencicipi pengalaman sebagai penari di acara kondangan mulai dari resepsi pernikahan di permukiman yang padat sampai dengan resepsi di gedung dan hotel.

 

“Nari di kondangan lumayan untuk nambah-nambah biaya buat kuliah di Jakarta, kost di Jakarta kan biaya pas-pasan. Lumayan nari bisa dapat peye (uang dan makan) kata orang Jakarta mah. Nari mulai dari perkampungan yang tempatnya panas, kadang tanah belok juga sampai Gedung pernikahan yang bagus,” kenang Hani.

Hani terus mengembangkan karir dalam dunia seni tari, dengan mengikuti berbagai audisi pada semester akhir kuliah. Mulai dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta sampai dengan Kementerian Pariwisata (Kemenpar).

“Beberapa kali mengikuti audisi, sampai akhirnya berhasil pada 2010, ikut misi budaya bareng Kemenpar menari ke Dubai. Selanjutnya  diajak sama Dinas Pariwisata DKI Jakarta dan Kemenpar ke beberapa negara di Asia, Eropa, dan Timur Tengah,” ujar Hani dengan bangga.

Menari di Syiria

Hani mengaku mendapatkan pengalaman menarik selama berkecimpung dalam dunia seni tari, selain bisa bekerja sambil jalan-jalan. Dia pun memeroleh kesempatan untuk mengunjungi negara yang memiliki kondisi yang unik.

“Yang paling berkesan itu, pada 2019 melakukan pementasan di Suriah (Syiria) atas undangan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Suriah. Saya bareng Gayatari Nusantara,” imbuhnya.

Hani saat melakukan pementasan di Damskus - Suriah pada 2019 (Dok Pribadi)

Menurut Hani, ini pementasan yang tidak dapat dilupakan, pasalnya selama ini Suriah dikenal sebagai negara yang tengah konflik dan perang. Saat akan pergi, Hani berpamitan kepada kelurga termasuk suaminya dengan rasa haru dibandingkan dengan perjalanan misi budaya ke negara lainnya.

“Rasanya mau perang, pengalaman yang luar biasa. Jauh sebelum mendapatkan kesempatan ini, pernah ada yang nanya negara mana yang mau dikunjungi ? Saya pernah jawab, pengen ke negara yang tidak biasa orang wisata atau ada misi budaya, ternyata ini jawabannya. Saya sempat enggak percaya ada misi kebudayaan ke Suriah yang kabarnya lagi dilanda konflik,” beber lulusan Pascasarjana ISBI Bandung ini.

Hani dan rombongan harus melalui waktu tempuh yang panjang, karena tidak ada penerbangan internasional langsung dari Jakarta ke Suriah. Dari Jakarta, harus transit di Dubai lalu ke Yordania. Dari Yordania melalui perjalanan darat ke ibu kota Suriah, Damaskus selama enam jam.

 

Sesampainya di perbatasan negara tersebut, Hani masih merasakan suasana mencekam harus mengantre melewati jejeran aparat militer, tetapi sesampainya di Damaskus kondisi berubah, Hani tidak menemukan bekas atau sedang berlangsungnya konflik.

“Suasananya indah banget, beda sama di pemberitaan selama ini, mungkin di daerah lain di Suriahnya. Saya sempat singgah pula di Masjid Agung Ummayah yang ada makam Nabi Yahya. Dulu saya sempat berdo`a kepada Allah SWT, apakah karir saya di tari diridhoi? Ternyata dengan nari saya bisa menebarkan pesan perdamaian seperti di Suriah,” ucap Hani terharu. (*/golali.com)