Jumlah Stunting Kota Bandung Capai 8.121 Orang, ini Langkah Mengatasinya

Jumlah Stunting Kota Bandung Capai 8.121 Orang, ini Langkah Mengatasinya
Menurut Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Bandung, Siti Muntamah, ada empat faktor terjadinya stunting pada anak. Di antaranya, pendidikan, gizi buruk, ekonomi, sanitasi. Dok Humas Pemkot Bandung

 

BANDUNG (golali.com) - Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Bandung, Siti Muntamah mengatakan saat ini jumlah anak di bawah lima tahun (Balita) stunting di Kota Bandung mencapai 8.121 orang. Sekitar 2.700 masuk kategori bayi di bawah dua tahun (Batuta). Sementara 50.000 penduduk lainnya masuk kategori rawan stunting.


"Sebanyak 2.700 orang itu akan diintervensi secara khusus oleh kami melalui program Tanginas. Mereka ada di 15 kelurahan di 11 kecamatan di Kota Bandung," kata Umi sapaan akrab Siti Muntamah  dalam rilis yang diterima golali.com, baru-baru ini. 


Menurut Siti ada empat faktor terjadinya stunting pada anak yaitu pendidikan, gizi buruk, ekonomi, dan sanitasi. Selain itu, di masa pandemi Covid-19 ini menjadikan anak-anak menjadi rawan stunting.


“Ada warga miskin baru. Untuk itu, kita harus meningkatkan 'skill' keluarga untuk tetap menghadirkan makanan-makanan yang sehat. Pangan yang aman dan sehat untuk para putra putri kita terhindar dari stunting,” imbuh Siti.

Siti mengatakan ada tiga hal yang akan dilakukan oleh TP PKK Kota Bandung melalui program Bandung Tanggap Stunting dengan Pangan Aman dan Sehat (Tanginas), antara lain intervensi spesifik, membuat pekarangan pangan yang aman dan sehat, dan pelatihan peningkatan ekonomi keluarga atau Upaya Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K).


Siti mengungkapkan, intervensi spesifik yaitu dengan memberikan pangan sehat atau asupan gizi bagi di bawah 2 tahun. Demikian pula kepada ibu hamil minimal 1 kali kepada ibu-ibu hamil sebelum melahirkan yang dikelola oleh Tim PKK kewilayahan.


“Buruan Sae ini, akan menjadi gambaran serta program yang akan dimasifkan di seluruh kewilyahan, termasuk yang terutama bagi wilayah-wilayah yang memiliki anak batuta, balita dan rawan stunting sehingga pangan aman dan sehat terpenuhi,” pungkas Umi. 

Berdasarkan catatan TP PKK Kota Bandung pada 2018 angka stunting itu sekitar 25,8 persen, sementara 2019 turun menjadi 25,3 persen.