Kota Bandung Belum Siap New Normal

Kota Bandung Belum Siap New Normal
Ilustrasi Pixabay.com

 

BANDUNG (golali.com) - Epidemiolog Dicky Budiman mengungkapkan Kota Bandung belum siap memasuki new normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), dalam menghadapi pandemi Covid-19. Sampai saat ini Kota Bandung masih melakukan Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Proporsional dan masih mengkaji kesiapan penerapan AKB, pasalnya Kota Bandung berdasarkan hasil evaluasi Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Jawa Barat, masih masuk zona kuning atau level cukup berat. 

“Belum siap (AKB). Bandung belum siap. Belum ada satu wilayah pun yang siap. Sampai saaat ini belum ada kabupaten kota yang siap," tandas Dicky dalam rilis Humas Pemkot Bandung yang diterima golali.com, Senin (1/6/2020). 

Menurut Dicky, WHO secara umum sudah mengeluarkan kriteria terkait penerapan new normal, pertama dari sisi epidemiologi angka reproduksi covid (Rt) di bawah 1 dengan jumlah kasus baru paling ideal 0, jika mau bertahap penerapan AKB minimal berkurang setengahnya, tidak ada kematian baru akibat Covid-19.Kedua memperhatikan indikator intervensi seperti cakupan pengetesan penyebaran penyakit, pelacakan penyakit, hingga kesiapan aturan, sarana, dan prasarana.

“Dari sisi intervensi, misalnya berapa cakupan testingnya. Tidak boleh menurun jumlah testingnya, minimal sama atau bagusnya meningkat dan (dilakukan) dengan PCR (Polymerase Chain Reaction). Jangan sampai dikatakan kasus menurun karena testing menurun, berarti tidak valid,” sambung Dicky. 

Sementara ketiga, peran aktif masyarakat guna menghentikan penyebaran Covid-19 sebagai kunci dari AKB. Berdasarkan riset WHO kata Dicky peran aktif masyarakat mampu berkontribusi hingga 80 persen dalam pengendalian wabah Covid-19. 

"AKB di level masyarakat adalah hal mendasar. Mulai dari AKB di level pertama yaitu individu dan kedua di tataran instansi. Level kedua tidak akan berhasil jika level pertama belum sempurna. Pertama individu dan masyarakat, artinya orang perorang. Ini bisa dilakukan sejak awal, edukasi dan sosialisasi sejak awal, sejak pandemi itu terjadi, dan tentu ini tidak perlu menunggu kriteria apapun,” imbuh Dicky. 

Dicky menerangkan AKB level pertama, individu sudah terbiasa menerapkan protokol kesehatan. AKB Level kedua yang diterapkan di ruang-ruang publik seperti tempat ibadah, kantor, transportasi publik, dan pusat perbelanjaan. Pusat perbelanjaan bisa menerapkan protokol kesehatan misalnya melarang masuk pengunjung yang demam, tidak memakai masker, dan masuk dengan bergerombol. 

“Kalau ini (level pertama) tidak terbangun, dia mau kongkow, window shopping, jalan ke mal, karena dia tidak paham belum menerapkan new normal individu. Karena belum paham, ya malnya rame lagi, walaupun diatur oleh pemerintahnya atau manajemen, dengan banyaknya orang akan tetap jadi corwded. Artinya ini memerlukan tahapan dari sebelumnya pada level individu, memerlukan partisipasi aktif dari masyarakat,” papar Dicky