Masjid Agung Surakarta, Masjid Legendaris di Kota Solo

Masjid Agung Surakarta, Masjid Legendaris di Kota Solo
Gerbang bergaya Persia, sebagai salah satu pintu masuk Masjid Agung Surakarta (Dok Golali.com)

 

SURAKARTA (Golali.com) – Berkunjug ke Kota Surakarta atau Solo, para pelancong akan menemukan beragam bangunan berusia ratusan tahun dengan kondisi yang masih terawat dan penuh sejarah. Salah satunya Masjid Agung Surakarta yang beralamat di Jalan Masjid Agung No 1 Kelurahan Kauman Kecamatan Pasar Kliwon Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. 


Masjid Agung Surakarta telah digunakan sejak 1768, atas inisiatif pembangunan dari Sunan Pakubuwono III sebagai raja Kasunan Surakarta Hadiningrat saat itu.

Letak Masjid Agung Surakarta dekat dengan Alun-Alun Utara dan Keraton Kasunan Surakarta Hadiningrat.

Selain itu masjid Agung Surakarta pun dekat dengan sentra batik Solo yakni Kampung Batik Kauman dan juga pusat pasar batik Solo Pasar Klewer.   

Klik juga : 

 

 

Bagian Luar Masjid 

Kemegahan arsitektur bagian luar masjid, menjadi pemandangan pertama yang akan dilihat para pelancong. Berupa gapura khas arsitektur Persia yang tinggi dipadukan dengan lambang Kasunan Surakarta yakni  Radya Laksana dan kaligrafi Arab. 


Sementara pada bagian halaman masjid yang luas, terdapat jam matahari (istiwa) untuk mengetahui waktu, termasuk waktu sholat. Adapula dua pendopo yang bernama bangsal pradonggo, di sebelah selatan dan utara halaman masjid untuk acara sekaten.  


Selain itu, terdapat menara bergaya arsitektur India yang befungsi untuk menyebar luaskan kumandang adzan, sebelum adanya pengeras suara seperti saat ini. Gaya Eropa terlihat dari penggunaan lampu taman di halaman masjid.


 

Bagian Masjid 


Aristektur Masjid Agung Surakarta didominasi dengan gaya bangunan Jawa, yakni memiliki kuncungan sebagai bagian pemisah antara halaman dengan serambi masjid. Begitupun pada serambi masjid yang dilengkapi dengan bedug dan kentongan yang dipukul sebelum kumandang adzan. Khusus untuk lantai serambi lebih kental dengan ciri khas Eropa melalui penggunaan tegel bermotif bunga.


Memasuki bagian dalam masjid, nuansa Jawa terlihat dari penggunaaan material kayu pada (empat tiang utama) saka guru, saka rawa (tiang pendamping), langit-langit, jendela, dan pintu masuk berhiaskan ukiran.  

 

Di sini terdapat mihrab (tempat imam) terbuat dari kayu berukir dengan beberapa anak tangga dan berornamen ukiran. Atap masjid bentuk tajug bersusun tiga yang pada bagian puncaknya berhiaskan mustaka. (*/Golali.com)

Klik juga :