Masjid Berarsitektur Unik di Antara Toko Batik Malioboro

Masjid Berarsitektur Unik di Antara Toko Batik Malioboro
Masjid Berarsitektur Unik di Antara Toko Batik Malioboro

 

YOGYAKARTA (golali.com) - Kala mengunjungi Kota Yogyakarta tepatnya di kawasan Malioboro sempatkan lah untuk wisata religi ke Masjid Siti Djirzanah Jalan Margomulyo No 25, Kelurahan Ngupasan Kecamatan Gondomanan, tepatnya diseberang Pasar Beringharjo. Masjid ini diresmikan pada Jum'at 10 Agustus 2018 atau 28 Dzulqaidah 1439 Hijriyah. 

Letak masjid berada di antara deretan pertokoan, ya dahulu bangunan masjid ini adalah bangunan toko, yang dibeli dan dibangun menjadi masjid oleh putra dan putri dari Siti Djirzanah yaitu, Herry Zudianto, Ellys Yudhiantie, dan Rudi Sastiawan. Herry Zudianto merupakan Wali Kota Yogyakarta, periode 2001-2006 dan 2006-2011. Mengutip informasi yang terdapat pada prasasti pada salah satu dinding masjid, rumah ibadah umat Islam ini sengaja dibangun untuk mengenang dan sebagai amal jariyah Almarhumah Siti Djirzanah.

Bangunan masjid ini memiliki gaya arsitektur yang unik, kental dengan nuansa arsitektur bangunan Tiongkok meskipun ada sentuhan Timur Tengah dan Eropa. Hal itu terlihat dari  atap luar bangunan berbentuk melengkung berwarna biru, merah, dan kuning. Di dinding luar tertera nama masjid menggunakan 4 bahasa, yaitu 
Arab, Mandarin, Inggris, dan Indonesia. Dinding eksterior  bercat biru dan beraksen kaligrafi kufi lafadz Allah SWT berwarna abu.

Ruangan untuk salat jamaah perempuan dan laki-laki terpisah, di mana jamaah laki-laki berada di lantai atas dan perempuan di lantai bawah. Sebelum memasuki masjid, jamaah harus membuka alas kaki yang dimasukkan ke dalam tas kain berwarna biru yang disediakan pengurus masjid dan ditaruh di rak penyimpanan di samping kanan kiri maupun bagian belakang ruangan dalam masjid. 

Untuk mencapai ruangan salat jamaah perempuan, kita harus menuruni beberapa anak tangga dan mengambil wudu di tempat wudu dan toilet yang bersih mirip dengan toilet hotel berbintang sebelum pintu masuk. Nah di pintu masuk ini, Nuansa Negeri Tirai Bambu semakin kental terasa melalui pintu berbahan kaca dengan hiasan kaligrafi kufi, langit-langit berbentuk geometri, adapula hiasan piring bergambar kaligrafi di bagian depan. Sementara ciri khas Eropa terlihat dari lemari tempat menyimpan mukena, lemari berbahan kayu dengan cat berwarna putih.  

Sementara di lantai pertama atau ruangan utama, yang digunakan salat jamaah laki-laki, dari halaman masjid kita harus menaiki beberapa anak tangga. Nuansa Tiongkok terasa melalui daun pintu dari kayu berwarna cat cokelat alami dengan bagian atas pintu memakai ragam hias  kaligrafi kufi lafadz Allah SWT  berwarna hitam beraksen kuning. Gaya arsitektur Eropa diadaposi melalui jarak antara lantai dan langit-langit yang tinggi.