Buku Srikandi: Mengkritisi Poligami Melalui  Pewayangan

Buku Srikandi: Mengkritisi Poligami Melalui  Pewayangan
Buku Srikandi
Penulis     :  Heru HS
Ketebalan :  viii+144 hlm
Cetakan    :  I, 2017
Penerbit    :  Ecosystem Publishing
ISBN         : 978-602-1527-44-3

Kisah pewayangan tak hanya menghadirkan gambaran kehidupan dalam batasan hitam putih, sama seperti halnya manusia dalam dunia nyata yang selalu berada pada ranah abu-abu. Semuanya muncul karena adanya hubungan sebab akibat, antarmanusia sebagai makhluk sosial. 

Melalui buku Srikandi, Heru HS menafsir ulang cerita yang sering dilakonkan dalam pewayangan, menjadi bentuk novel dengan bahasa modern yang mudah dipahami. Buku mengisahkan kegundahan Srikandi sebagai istri keempat Arjuna, yang tidak terima suaminya menikah untuk kelima kalinya dengan Dewi Manohara.

Sebelum memperistri Srikandi, Arjuna telah menikah dengan Dewi Ulupi, Subadra, dan Larasati. Ketiga istri Arjuna tidak mempermasalahkan jika Arjuna berpoligami, sebab menurut mereka jika suami bahagia hal itu menjadi kebahagian istrinya. Sementara Srikandi berpandangan berbeda. Menurut Srikandi meskipun tradisi, hukum agama dan negara mengizinkan suami memiliki banyak istri, tetapi hal itu dirasa tidak mengayomi perasaan wanita. Wanita tak pernah diberi hak untuk mengatakan `tidak`, bila hati tidak berkenan (hal 22).   

Namun, Srikandi tidak mampu untuk mengungkapkan ketidaksetujuannya langsung kepada Arjuna yang telah menikah lagi. Di tengah kekalutannya dalam urusan rumah tangga, Srikandi pamit kepada Arjuna, mengunjungi orangtuanya di Kerajaan Pancala. Lagi-lagi Srikandi tidak sanggup menghilangkan kegundahannya, bahkan sekedar bercerita kepada kedua orangtuanya pun tidak Srikandi lakukan. 

Hingga akhirnya Srikandi memutuskan pergi, mencari penyelesaian atas permasalahan yang dihadapi. Akibatnya Srikandi bimbang dengan jati dirinya apakah akan bertahan menjadi perempuan atau berubah menjadi laki-laki? 

Srikandi mencari  jawaban ke segala penjuru, hingga akhirnya sampai di belantara Bharasdhawu. Srikandi berjumpa dengan Begawan Stuna yang mampu meminjamkan raga jantan semesta lelaki. Namun ternyata menurut Srikandi Ilahi bertitah lain. Srikandi tidak bisa berubah menjadi perempuan kembali dan ingin seterusnya jadi laki-laki. Laki-laki dalam pikiran, kesadaran, hasrat, dan raga  (Hal 68).

Arjuna sangat marah setelah mengetahui perubahan pada diri Srikandi, sebab ini merupakan sesuatu yang tabu dan sangat mencoreng harga dirinya sebagai adipati Madukara (bagian dari wilayah Kerajaan Indraprasta yang dipimpim Yudistira kakak dari Arjuna). Arjuna hendak melenyapkan Srikandi, namun menurut Kresna (sepupu Arjuna) hal itu sangat tidak adil sebab semuanya terjadi, bukan sepenuhnya kesalahan Srikandi.  


“Ketika Srikandi mengalami pergeseran hastrat kewanitaan, engkau tak peduli. Kau tak mencoba mengerti maupun mendekatinya kembali. Kau sibuk dengan istrimu yang lain, kau sibuk dengan pekerjaanmu sebagi adipati, kau membenamkan diri dalam kegemaranmu berburu dan bertapa. Kau tak peduli kepadanya. Kau biarkan dia berjuang sendiri memecahkan masalahnya. Kegagalannya adalah kegagalanmu pula,” ungkap Kresna  menyadarkan Arjuna (Hal 84).

Melalui buku, penulis sepertinya hendak mengkritisi praktik poligami yang banyak terjadi dalam kehidupan masyarakat. Meskipun beberapa agama memperbolehkan poligami, tetapi jika kembali lagi pada hati nurani hal ini menyakiti perempuan, maka kaum lelaki akan menjaga pernikahan monogami. 

Sebab dibandingkan istri yang menerima dipoligami seperti ketiga istri Arjuna, lebih banyak istri yang tidak ingin suaminya berbagai hati. Pasalnya, sikap adil dalam poligami kebanyakan hanya sebatas pada materi, sementara adil dalam perasaan sangat sulit untuk dilakukan.