Rengkong, Kemeriahan Saat Panen Padi 

Rengkong, Kemeriahan Saat Panen Padi 
Rengkong

CIANJUR (golali.com) - Kehadiran seni dalam kehidupan masyarakat di masa lalu tidak hanya bertujuan sebagai sarana hiburan. Seni sering kali tercipta sebagai rasa syukur kepada Sang Maha Pencipta atas rezeki yang  didapatkan masyarakat.

Salah satunya seni Rengkong dari Kabupaten Cianjur, di mana seni ini berkaitan dengan pesta panen padi di kawasan tersebut. Dari berbagai literatur, rengkong merujuk pada suatu alat yang terbuat dari bambu untuk memanggul padi dari sawah ke leuit (tempat menyimpan beras dalam bahasa Sunda), di mana padi tersebut diikat pada injuk di kedua tepi dari rengkong. 

Mungkin kesenian ini tercipta saat para petani yang berjalan beriringan membawa rengkong, gerakan petani berjalan tersebut menyebabkan bunyi sebagai hasil gesekan dari injuk dan bambu. Apalagi dengan hasil panen yang melimpah, para petani itu pastinya berjalan dengan bersuka cita. 

Dalam perjalanan waktu, bunyi dari beberapa rengkong itu menghasilkan nada sebagai musik yang khas. Sehingga menjadi suatu pertunjukan seni di kala panen sebagai rasa syukur dan hiburan, bagi para petani maupun masyarakat yang menontonnya setelah lelah melakukan aktivitas panen. Rengkong biasanya dimainkan oleh lima lelaki dewasa, untuk semakin meramaikan suasana atraksi seni ini dipadukan dengan berbagai alat musik tradisional khas Pasundan. 

Para pemain rengkong mengenakan busana  tradisional pria Sunda yaitu pangsi hitam lengkap dengan ikat kepala, dan sarung yang diselendangkan di pundak. Seni ini biasa dipentaskan di tanah lapang bekas panen padi maupun berbentuk helaran. Dalam satu pertunjukan selain pemain rengkong dan waditra Sunda, dilengkapi dengan pria yang membawa alat pertanian seperti cangkul, arit, wuluku (alat pembajak sawah tradisional).