Resensi Buku Bhagawad Gita : Meresapi Nasihat Kresna

Resensi Buku Bhagawad Gita : Meresapi Nasihat Kresna
Buku Bhagawad Gita

 


Judul Buku                     

:

Bhagawad Gita

Penulis                                              

:

Heru HS

Jumlah Halaman           

:

(viii +) 104 Halaman

Penerbit                           

:

Ecosystem Publishing

Cetakan                            

:

I, 2018

ISBN                                  

:

978-602-1527-58-0

     

 

 

Perang seringkali memberikan dampak buruk bagi dua pihak yang bertikai, baik untuk pemenang maupun pihak yang kalah. Keduanya, seringkali kehilangan para pejuang yang terlibat dalam peperangan. Novel Bhagawad Gita yang ditulis Heru HS sebagai reinteprestasi dari salah satu bagian kisah Mahabharata terkait Perang Bharata Yudha. 

 

Penulis yang sejak belia telah akrab dengan kisah Mahabharata yang dilakonkan dalam pertunjukan wayang, menyajikannya dengan bahasa kekinian yang mudah dicerna semua pembaca. Novel ini mengisahkan ketika Kresna memberikan berbagai nasihat kepada Arjuna yang bimbang untuk ikut serta dalam Perang Bharata Yudha. Perang ini merupakan pertempuran saudara antara Pandawa yang terdiri dari Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa dengan sepupunya Kurawa.

 

Perang ini pecah karena pihak Kurawa yang ingkar janji kepada Pandawa, untuk mengembalikan Kerajaan Indraprasta, setelah Pandawa menjalani hukuman selama dua belas tahun hidup di hutan dan satu tahun harus hidup dalam penyamaran. Perang adalah jalan terakhir sebagai upaya menuntut keadilan. Prinsipnya, perang seharusnya dicegah sebab perang akan selalu memakan korban. Banyak yang akan gugur di medan tempur, banyak istri kehilangan suami, anak kehilangan orangtua, orangtua kehilangan anak-anak, dan saudara kehilangan saudara.

 

Salah satu cara untuk menghindari perang yakni menjalankan perintah agama, dengan beragama seharusnya manusia dapat menemukan diri murninya, yang artinya mencapai Ilahi, hingga mampu hidup jujur, lebih damai, rukun, bahagia, harmonis, dan mencintai sesamanya. Maka bila dengan beragama, manusia justru menjadi pemarah, selalu bersikap curiga pada sesama, menganggap sesama sebagai ancaman dan membenci sesamanya, berarti ada yang salah dalam kehidupan beragamanya. Berarti hidupnya hanya terbebani dogma-dogma agamanya, tanpa ada penghayatan akan esensi dan makna agama.

 

Apapun yang disebut sebagai kegiatan keagaamaan seperti berdoa, melantunkan nyanyian pujian, berkurban, berderma, membaca dan menghafal isi kitab suci, melakukan upacara-upacara ritual keagamaan dan sebagainya, bila tidak berorientasi kepada Ilahi, maka seluruh kegiatan itu menjadi tak banyak manfaat dan tak bernilai tinggi bagi pelakunya. Senantiasa menjalani hidup dengan berorientasi hanya kepada-Nya. Maka tak perlu menunggu saat kematian, saat ini pun selagi masih hidup, manusia juga dapat memasuki alam bahagia menyatu dengan-Nya.

 

Penyebab utama, Kerajaan Indraprasta berada dalam genggaman Kurawa akibat Pandawa tidak dapat mengendalikan nafsu. Godaan itu berawal dari pikiran, berbagai pikiran itu muncul karena adanya jasmani dan pancaindera. Dari penginderaan itulah dapat timbul berbagai macam pikiran yang akhirnya membentuk nafsu. Nafsu itulah yang menggoda manusia untuk memenuhi hasrat badan jasmani atau hal-hal yang bersifat lahiriah.

 

Kresna mencontohkan “Kakakmu Yudhistira! Dia senang bermain judi. Pandawa hidup terasing selama belasan tahun karena kakakmu kalah judi. Kenapa dia kalah judi? Karena dia lupa diri. Dia menikmati kemenangan demi kemenangan. Ia terbuai dalam kebahagiaan palsu.

 

 

Akhirnya lupa diri dengan mempertaruhkan segalanya, termasuk Kerajaan Indraprasta yang terlepas dan jatuh ke tangan Kurawa, lantas menjadi bagian Kerajaan Hastinapura”

Perasaan senang itu sesungguhnya juga merupakan godaan. Bila tak dikendalikan, orang dapat menjadi angkuh bahkan tak lagi mawas diri, bahkan akhirnya lupa diri. Tetapi bukan berarti nafsu sama sekali tidak berguna. Tanpa nafsu, hidup terasa hampa, tak ada gairah, dan tak ada gerak. Nafsu dalam jenis dan ukuran yang tepat diperlukan untuk geraknya kehidupan.

“Bagaimana hatimu tergerak untuk menolong sesama manusia, bila tak punya nafsu  kasihan atau welas asih? Dengan demikian, nafsu ibarat alat yang dipinjamkan Ilahi kepada manusia untuk digunakan secara tepat dan benar” terang Kresna.

 

 

Membaca buku ini, pembaca akan menemukan ajaran nilai moral yang tak lekang waktu. Sampai sekarang nilai-nilai luhur dalam kisah ini, patut untuk diteladani guna mendapatkan ketenangan batin dalam menjalani hidup