Resensi Buku Hidup Itu Harus Pintar Ngegas dan Ngerem : Nasihat Kehidupan dari Cak Nun

Resensi Buku Hidup Itu Harus Pintar Ngegas dan Ngerem : Nasihat Kehidupan dari Cak Nun
Hidup Harus Pintar Ngegas dan Ngerem

 


Judul Buku                     

:

Hidup Itu Harus Pintar Ngegas & Ngerem

Penulis                                              

:

Emha Ainun Nadjib

Jumlah Halaman           

:

230 Halaman

Penerbit                           

:

Noura Books

Cetakan                            

:

IX, Desember 2018

ISBN                                  

:

978-602-385-150-8

 

 

 

 

Membaca buku Hidup itu Harus Pintar Ngegas dan Ngerem, yang berisi 11 ceramah Emha Ainun Nadjib atau biasa disapa Cak Nun, sarat akan nasihat-nasihat yang berkenaan dengan kehidupan masa kini.

 

Petuah-petuah Cak Nun yang berpijak pada ajaran agama Islam, disampaikan dengan bahasa tutur yang lugas dan ringan, sehingga tidak berkesan menggurui dan menghakimi. Nasihat-nasihat ini meliputi berbagai dimensi mulai dari budaya, hukum, politik, kearifan lokal, ekonomi, sosial, ilmu pengetahuan, sampai dengan teknologi. 

 

Ilmu adalah untuk mencari tahu tempat segala hal, dan menempatkan segala hal  pada tempat yang tepat. Contohnya dalam menentukan pemimpin negara, kalau orangnya begini cocok jadi presiden, kalau begini cocoknya jualan soto, semua itu ada ilmunya. Kalau kamu tidak tahu ilmunya, dan asal mencocokkan saja, bisa tidak karuan. Tidak akan maju negara ini  (hal 10).

 

Tidak semua pembelajaran itu bersifat kognitif. Tidak semua pemahaman itu melalui kata. Sebenarnya pemahaman yang paling mendalam itu, melalui pengalaman dan rasa. Kamu jangan cuma pintar di sekolah, tapi harus pintar juga dalam hidup. Banyak orang pintar  hidup padahal tidak pintar sekolahnya. Banyak orang pintar di sekolah tapi tidak pintar hidup.

 

Bekerja tidak bisa, dagang tidak bisa, jadi orang yang dipercaya orang lain tidak bisa. Kalau ada orang yang tidak jelas pekerjaannya, hanya bisa mengacak-acak, palsu-palsu, itu karena jika dilepaskan sendiri dia tidak bisa hidup (hal 22-23).

 

Ada empat macam orang terkait pengetahuan yang dimilikinya. Pertama, orang yang tahu sedikit tentang sedikit hal. Kedua, orang yang tahu sedikit tentang banyak hal. Ketiga, orang yang tahu banyak tentang sedikit hal. Keempat, orang tahu banyak tentang banyak hal.

Jangan sampai menjadi orang yang tahu sedikit tentang sedikit hal. Agak mending orang yang tahu banyak tentang sedikit hal, daripada orang yang tahu sedikit tentang banyak hal, akhinya tidak dapat kerjaan karena masing-masing dia hanya tahu sedikit. Yang oke, orang yang tahu banyak tentang banyak hal (hal 90).

 

Kita seringkali tidak objektif dalam menakar kebenaran, padahal sebenarnya dalam hidup kebenaran ada tiga jenis, pertama kebenaran kita sendiri. Kebenaran seperti ini tidak ada yang menjamin. Kedua kebenaran kolektif, ini pun bersifat relatif yang akhirnya jadi benarnya masing-masing, turun lagi ke tingkat benarnya sendiri. Semua manusia seharusnya saling rendah hati dan saling mengalah supaya kita sama-sama mencari kebenaran yang lebih tinggi atau kebenaran ketiga yaitu benar yang sejati. Benar yang sejati adalah yang kita cari bersama-sama dan selama hidup (hal 28).

 

Kenyataannya sekarang ini, dalam golongan masyarakat tertentu, cara berpikirnya terbalik. Jika ada yang tidak sama dengan golongannya, maka akan terus dijelek-jelekkan. Akan terus dicari-cari kesalahannya. Pokoknya, yang baik dan benar hanya golongannya sendiri (hal 61).

 

Di dunia jangan hanya memikirkan harta. Manusia diperintahkan menjadi khalifah fil ardh. Artinya, manusia diperintah mengurus dunia tapi bukan untuk mencari dunia saja. Maksud mengurus dunia itu; mari bumi dan seisinya ditata bersama-sama. Uruslah bumi, tanaman, tanah, gunung, dan seluruh isi bumi (hal 146).

 

Jadi yang dimaksud khalifah, bukan menjadi pemimpin yang berkuasa atas segala hal. Melainkan memimpin dirinya sendiri bersama dengan manusia lain sebagai makhluk Tuhan YME,  yang dapat memberikan manfaat untuk dirinya, orang lain, dan alam semesta.

Namun selama ini, pengertian khalifah sering menjadi tameng oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Sehingga banyak manusia yang tidak lagi malu untuk berbuat sewenang-wenang seperti korupsi, pembalakan hutan secara ilegal, yang akhirnya akan merusak bumi dan manusia itu sendiri.

 

Selain itu, sekarang banyak orang yang mencari kemulian, namun banyak yang tidak mengerti arti dari kemuliaan. Baik belum tentu mulia. Mulia itu di atas baik. Misalnya kamu melihat kayu melintang di jalan, di mana kayu itu bisa menyebabkan pengendara motor jatuh terpeleset jika melindasnya, tapi kamu tidak menyingkirkannya. Kamu tidak akan dihukum polisi. Karena, kamu tidak wajib menyingkirkannya.

 

Dari kacamata hukum formal kamu tidak salah,tapi dari kacamata moral atau akhlak itu tidak baik. Tidak baik secara akhlak belum tentu dihukum. Jangan hanya puas jadi orang yang bebas hukuman formal. Kita harus menyempurnakannya menjadi orang yang berakhlak. Itulah namanya kemuliaan. Tidak perlu disuruh, tapi tetap melakukan kebaikan, itulah kemuliaan (hal 205).