Resensi Buku The Perks of Being a Wallflower, Surat Jadi Alternatif Luapkan Kegalauan

Resensi Buku The Perks of Being a Wallflower, Surat Jadi Alternatif Luapkan Kegalauan
Buku The Perks of Being a Wallflower

 

Judul Buku

:

The Perks of Being a Wallflower

Penulis

:

Stephen Chbosky

Penerjemah

:

Reni Indardini

Jumlah Halaman

:

Ix + 269 Halaman

Penerbit

:

POP

Cetakan

:

Cetakan I, Oktober 2020

ISBN

:

978-602-481-470-0

 

Novel berjudul The Perks of Being a Wallflower karya Stephen Chbosky, merekam kehidupan remaja. Tokoh bernama Charlie dalam pencarian jati diri dengan beragam traumatik masa kecil, cerita masa lalu keluarga besar, dan kehidupan pubertas remaja. 


Hal itu memengaruhi perkembangan kesehatan mental dan fisiknya, "Aku masuk rumah sakit dua bulan terakhir. Dokter memberitahuku bahwa ibu dan ayahku menemukanku duduk di sofa ruang keluarga. Aku tidak mau bicara dan tidak sadar-sadar. Jadi orangtuaku mengantarkanku ke rumah sakit tempatku pernah diopname ketika aku berumur tujuh tahun sesudah Bibi Helen meninggal," (Halaman 254).


Dari sisi keluarga inti, Charlie memiliki keluarga yang baik-baik saja, terlahir sebagai anak bungsu dari satu kakak laki-laki dan perempuan dengan orangtua yang utuh. Tetapi sayangnya, Charlie enggan mengungkapkan semua kegundahannya kepada orang terdekatnya.

Apalagi perubahan diri dan pergaulan dari remaja awal menuju remaja akhir, dengan membawa trauma masa lalu. Hingga beberapa kali, orangtuanya membawa kepada psikologi perkembangan remaja. 

Namun cara yang paling efektif bagi Charlie, untuk keluar dari masalahnya yakni mengisahkan isi hatinya dalam surat yang dikirimkan kepada orang-orang yang tidak dia kenal.

"Setibanya di kantor pos, kumasukkan surat ke kotak pos. Dan kesannya final. Damai" (Halaman 118).

Charlie tidak pernah mencantumkan identitas aslinya dalam surat-suratnya, termasuk alamat dirinya. 

Apa penyebab trauma dalam kehidupan Charlie yang dikisahkan berlangsung pada awal 1990an ini? Semuanya akan terjawab dalam novel dengan ketebalan 269 halaman ini. 


Dalam novel ini, terdapat beragam kekhasan penanda remaja 1990an seperti fanzine yang sangat ngehit di waktu itu. 

"Baru-baru ini aku memang ikut serta menggarap fanzine bernama Punk Rocky. Fanzine ini, majalah amatir karya penggemar yang membahas topik-topik seputar musik punk rock dan The Rocky Horror Picture Show," (Halaman 56).

Selain itu memberikan gambaran beragam kebiasaan yang berlangsung menjelang dan saat perayaan Natal dan Tahun Baru dalam masyarakat Amerika dan keluarga Charlie.

Buku fiksi yang pertama kali terbit pada 1999 dan dicetak ulang untuk kesekian kalinya ini, merupakan buku edisi spesial karena sebagai edisi peringatan 20 tahun. Berbeda dengan buku cetakan sebelumnya dalam edisi ini terdapat surat baru dari Charlie yang ditulis pada 2012, setelah dirinya dewasa. 

Selain jadi buku best seller #1 New York Time, buku ini pernah diangkat menjadi film yang disutradai penulis buku ini sendiri.

Buku ini sangat cocok dibaca mereka yang berusia 18 tahun ke atas dan orangtua maupun orang dewasa yang berada di antara para remaja berusia labil dalam mencari jati diri. Selamat membaca (*/golali.com)