Resensi Novel Melukis Jalan Astana, Hegemoni yang Tak Berkesudahan

Resensi Novel Melukis Jalan Astana, Hegemoni yang Tak Berkesudahan
Novel Melukis Jalan Astana (Dok Golali.com)


 

Judul Buku

Melukis Jalan Astana

Penulis

Iman Herdi

Jumlah Halaman

289 Halaman

Penerbit

Propublic.info

Cetakan

Cetakan I, Desember 2020

ISBN

978 - 623 - 93907-6-1

 



Novel Melukis Jalan Astana karya Iman Herdi, mengingatkan kembali tentang kuasa antar manusia akan manusia lain. Mulai dari hubungan gender antara perempuan dan lelaki, hingga posisi jabatan antara penguasa dan rakyatnya, dan hal-hal lainnya yang hadir menjadi budaya dalam masyarakat.

Dari sinopsis dan awal cerita, penulis yang juga jurnalis senior ini menyuguhkan cerita yang berbeda. Jika pada sinopsis, pembaca seolah hanya bertemu dengan tokoh utama Sekar Arum.

Tetapi nyatanya di awal cerita dalam novel Melukis Jalan Astana ini, hadirlah tokoh Semangi bersama keluarganya, yang tinggal di kawasan utara Bandung.

Kedua tokoh perempuan bersama konflik hidupnya, ini hadir selang-seling dalam beberapa bagian dalam novel yang terdiri dari tiga bagian ini. Hingga akhirnya, semuanya tinggal dalam satu wilayah yakni di kawasan utara Bandung.

Klik juga : 


Jalan hidup Sekar Arum jauh dari kisah yang dihadapi Semangi. Semangi korban lelaki yang bukan pilihannya

"Akhir-akhir ini dia kurang sehat. Beberapa kali aku melihat dia muntah-muntah. Awalnya dia mengaku hanya masuk angin. Malam tadi dia mengakuinya. Dan siang ini dia mau mengakhiri semuanya," ucap Utari, ibunya Semangi (Halaman 33)

Sementara Sekar Arum, hidup terlunta-lunta akibat mengikuti cintanya pada Kadaka (Kaka), lelaki luntang-lantung yang mengagumi suara dan kecantikan Arum sebagai seorang sinden.

Saat Arum bertemu dengan Kaka, sebenernya Arum telah dijodohkan dengan Darto dan terpaksa menikah. Meskipun begitu, Arum bisa berpisah dengan Darto dan melanjutkan cintanya dengan Kaka.

Kaka pun memberikan berbagai janji untuk Arum, yang dalam perjalanannya tidak pernah ditepati malah Kaka menjadi buruan aparat akibat profesinya yang mengganggu keamanan. (Halaman 66-67)


Di sisi lain, novel ini mengangkat pergulatan masyarakat yang mempertahankan jalan di kawasan utara Bandung. Yakni daerah bernama Astana, tempat tinggal Semangi dan juga tempat tetirah Arum.

Pembangunan 


Atas nama pembangunan, sang penguasa yang diwakili Kuwu atau Kepala Desa bernama Tohar. Menggunakan hegemoni, untuk meminta warga menyetujui aturannya tentang pembangunan.

Melalui penutupan jalan demi kepentingan pihak luar dalam menjalankan bisnis. Padahal dirinya sendiri, diperalat pihak swasta tersebut.

Klik juga : 

 



Dalam novel ini, bagaimana keterlibatan para tokoh pria seperti Samoja, seorang seniman sekaligus paman Semangi melakukan perlawanan dengan beberapa orang warga melalui pameran seni.Di sisi lain Tohar menggunakan Kaka untuk membungkam pihak yang melawannya. Bagaimana akhir ceritanya?

Mengambil setting Bandung dan sekitarnya tahun 1980-an, dengan mengangkat kasus SDSB, penembakan misterius, sampai dengan kehidupan masyarakat yang masih berinteraksi di kamar mandi umum. Nyatanya, penulis mengupas isu yang masih relevan sampai kini dan tidak pernah ada jalan keluar dari konflik tersebut.

Selain akhirnya menjadi suatu kehilangan dan tidak pernah ada yang menang dalam kedamaian. Selamat membaca dan bernostalgia (*/Golali.com)

 

Klik juga :