Dualisme dalam Estetika Paradoks

Dualisme dalam Estetika Paradoks
Estetika Paradoks

Judul Buku

:

Estetika Paradoks

Penulis                                        

:

Jakob Sumardjo

Jumlah Halaman

:

xii-560

Penerbit             

:

Kelir

Cetakan              

:

Juli, 2014

ISBN                

:

978-602-17836-4-1

 

Membaca buku "Estetika Paradoks" karya Jakob Sumardjo pembaca akan menemukan keberagaman dari Indonesia, yang tidak sepenuhnya berbeda. Semuanya bertitik tolak dari kesamaan pola pikir.

 

Pola pikir dari masyarakat tersebut yaitu paham dualisme-analogistik atau completio oppositorum, bahwa keberadaan ini merupakan pasangan-pasangan saling bersebrangan. Dari pola pikir tersebut menghadirkan budaya peramu, budaya ladang, budaya sawah, dan budaya maritim. Di mana empat budaya tersebut lahir dari tempat manusia sebagai penghasil budaya tersebut berpijak.

 

Manusia dalam budaya primordial Indonesia (juga bangsa-bangsa lain di Asia Tenggara dan sebagian Asia) percaya bahwa sesuatu itu karena adanya yang lain, yang bersebrangan tidak dingin tanpa panas, tidak ada panjang tanpa pendek, tidak ada lelaki tanpa perempuan (halaman 50).

 

Fenomena dualitas segala sesuatu yang demikian itulah yang dikenal secara merata di masyarakat suku Indonesia. Hanya bagaimana masing-masing suku memecahkan kondisi dualistik inilah yang berbeda-beda (halaman 53).

 

Untuk mempermudah pemahaman akan empat jenis budaya-religi-magis tersebut, penulis membaginya dalam empat pola dasar yang dapat dianalisis lebih banyak melalui artefak budaya dari suku-suku tersebut. Empat pola dasar tersebut yakni pola dua, pola tiga, pola empat, dan pola lima-sembilan. Dalam menganalisis budaya-religi-magis ini erat kaitannya dengan lingkungan fisik di mana masyarakat primordial itu hidup.

 

Dasar berpikir pola dua adalah bahwa hidup itu pemisahan. Hidup itu persaingan. Hidup itu konflik. Hidup adalah perang. Hidup memeng berat bagi manusia berpola dua. Hidup yang mengandalkan kemampuan diri. Realitas ekologis manusia pemburu-peramu ini membentuk realitas kesadaran tentang apa kebenaran hidup ini (halaman 133-134).

 

Pola tiga dalam kebudayaan pra-modern Indonesia, berkembang di lingkungan masyarakat primordial yang hidup dengan cara berladang (halaman 197).

Sementara, pola empat berawal dari kehidupan masyarakat pesisir atau kepulauan (halaman 252).

 

Pengaturan pola lima-sembilan berkembang dalam masyarakat yang sejak awal permukimannya di suatu daerah mengandalkan hidupnya dan bersawah (halaman 330).